Januari 22 2019 0Comment

Benih Ikan Nila Payau

 

Benih Ikan Nila Payau Hasil Hibridisasi yang Bisa Hidup di Tambak Tak Terpakai di perkenalkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.Ikan nila payau hasil hibridisasi ini dapat dikembangkan sebagai komoditas diversifikasi baru agar tambak yang tidak dioperasikan untuk sementara waktu atau `idle` dapat kembali produktif,” kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto  di Jakarta, Kamis (27/9).

Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkenalkan benih ikan nila payau hasil hibridisasi yang dapat digunakan untuk budi daya di tambak udang yang selama ini tidak terpakai atau tidak produktif lagi karena menurunnya kualitas lahan.

Menurut Slamet Soebjakto, revitalisasi tambak-tambak “idle” bahkan mangkrak melalui budidaya ini dapat dilakukan juga dengan konsep kawasan dan pembentukan organisasi usaha berbasis kelompok, sehingga tidak perlu membuka lahan baru.

Dilihat dari potensi areal tambak tidak terpakai, ujar dia, sejatinya juga dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar yang memiliki prospek ekonomi dan sekaligus memberikan kontribusi yang besar pula bagi daerah.

Teknologi ikan nila ini merupakan terobosan budidaya alternatif

Untuk mendukung peningkatan produksi sektor Perikanan Budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dengan begitu usaha masyarakat juga terjamin berkelanjutannya, sehingga kesejahteraan dapat dicapai, tegas Slamet.

Peneliti muda BPBAP Takalar, Dasep Hasbullah, berhasil mengembangkan teknologi produksi nila payau unggul melalui proses hibridisasi antara strain ikan nila unggul air tawar yang sudah lulus uji tantang (pengujian untuk mengetahui atau mengukur kemampuan hidup secara kualitatif pada perlakuan tertentu) dengan nila spesifik lokal Sulawesi Selatan yang sangat toleran pada kondisi salinitas tinggi dan oksigen rendah.

Ikan Nila payau hibridisasi

Ikan ini dinilai mampu beradaptasi dan tahan pada rentang salinitas tinggi sehingga kematian yang cukup tinggi sebagai dampak fisiologis dari proses osmoregulasi yang ditimbulkan oleh kenaikan salinitas dan selama ini menjadi permasalahan yang dihadapi ikan nila air tawar saat dibudidayakan di tambak, dapat teratasi.

Benih hasil hibridisasi telah diujicobakan di beberapa tambak di wilayah binaan BPBAP Takalar, hasilnya menunjukkan ketahanan hidup pada kisaran salinitas yang tinggi, kelulushidupan atau “survival rate” 82 – 90 persen.

Pada budidaya semi intensif menghasilkan nilai konversi pakan sebesar 0,8, sehingga secara ekonomis membantu meningkatkan produktivitas tambak dan pendapatan pembudidaya.

Penerapan teknologi ikan nila payau sudah menyebar di kawasan timur Indonesia.

Di Sulawesi Selatan yaitu Takalar, Maros, Gowa, Pangkep, Pinrang, Barru, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Selayar, dan Pare-Pare sudah mengembangkan ikan nila jenis ini. Juga di Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Kalimatan Timur, Maluku, Papua, Papu Barat, bahkan juga sudah dikembangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Atas jasanya itu, Dasep mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia, yang diserahkan saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia, 17 Agustus 2018 silam.

Sementara itu, pengamat perikanan dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim menginginkan pemerintah dapat memperbanyak fasilitas dan intensif bagi pelaku usaha yang mengekspor komoditas perikanan.

“Fasilitasi pelaku usaha dari aspek kemudahan berusaha dan berikan insentif jika bisa mengekspor produk perikanan yang dihasilkan dari praktik usaha perikanan yang berkelanjutan,” kata Abdul Halim di Jakarta, Rabu (26/9).

Menurut Abdul Halim, pada saat ini ada dua tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha perikanan nasional di berbagai daerah, salah satunya adalah ketidakpastian iklim usaha di dalam negeri. [RN] Trubus.id

 

admin

Write a Reply or Comment